|
"Seorang anak muda duduk membuat puri dari pasir di bak pasir. Ia terus-menerus membangun sesuatu yang baru, sesuatu yang berharga selama beberapa waktu sebelum ambruk lagi. Dengan cara serupa Waktu diberikan kepada sebuah planet sebagai mainan. Tempat itulah dimana sejarah ditulis, dimana kejadian-kejadian dipahat pada bebatuan -dan dengan cepat terjadi lagi. Inilah tempat dimana kehidupan bergolak seperti dalam ketel nenek sihir. Suatu hari kitapun akan dibuatkan patung disini -dari bahan rapuh yang sama seperti nenek moyang kita. Angin waktu menghembusi kita, menghempas kita dan sesungguhnya kita adalah angin itu sendiri -kemudian menjatuhkan kita kembali. Kita disulap dan terpedaya, Selalu ada sebuah kebohongan dan rekayasa untuk menggantikan tempat kita. Kita tidak berdiri di atas tanah yang kokoh, kita bahkan tak berdiri di atas pasir -kita adalah pasir itu sendiri."
...
"Waktu tidak berlalu, Hans Thomas dan Waktu tidak berdetik. Kita adalah manusia-manusia yang berlalu dan jam kita berdetik. Waktu melahap jalannya sendiri melalui sejarah sesunyi dan sekeras matahari yang terbit di arah timur dan tenggelam di sebelah barat. Ia membuka peradaban besar, menggerogoti monumen tua dan melahap generasi demi generasi. Itulah mengapa kita berbicara tentang 'pengrusakan waktu'. Waktu memamah dan mengunyah -dan kita adalah yang berada di antara rahangnya."
...
"Lihatlah, kita hidup, tetapi kita menjalani kehidupan ini satu kali saja. Kita mengembangkan tangan dan menyatakan bahwa kita ada, tetapi kemudian kita tersingkir ke tepi dan terdorong ke kedalaman sejarah. Karena kita mudah disingkirkan. Kita adalah bagian dari penyamaran abadi di mana topeng-topeng dipakai bergantian. Tetapi kita berhak mendapat lebih, Hans Thomas. Kau dan aku berhak mengukir nama kita pada sesuatu yang abadi, sesuatu yang tak akan disibakkan dalam bak pasir."
- Misteri Soliter, hal.311-314
Hmm... begitu menarik narasi yang disajikan di bab Delapan Wajik 
|
|